Antrean Panjang Masyarakat Pedalama: Harapan Masyarakat Desa Long Alango Mendapatkan BBM Satu Harga
Masyarakat Desa Long Alango yang berada di wilayah perbatasan harus menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, salah satunya adalah mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Ketika program bensin satu harga tersedia, masyarakat rela mengantre panjang demi mendapatkan BBM dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga biasanya yang bisa mencapai sekitar Rp25.000 per liter. Program Bensin Satu Harga merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk menyamakan harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil, pedalaman, dan wilayah perbatasan. Program ini diluncurkan oleh pemerintah melalui perusahaan energi negara, yaitu PT Pertamina (Persero). Tujuan utama program ini adalah agar masyarakat di daerah yang sulit dijangkau tidak lagi harus membeli BBM dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan daerah perkotaan.
Oleh karena itu Masyarakat Desa Long Alango terlihat mengantre panjang untuk membeli bensin satu harga. Antrean tersebut terjadi karena bensin dengan harga resmi jauh lebih murah dibandingkan harga yang biasa dijual di desa tersebut. Warga datang dengan membawa kendaraan atau jeriken untuk mendapatkan bensin dengan harga resmi pemerintah yang jauh lebih murah dari harga yang biasa mereka beli. Antrean ini diikuti oleh masyarakat Desa Long Alango, seperti pengendara sepeda motor, pemilik perahu ketinting, pedagang, serta warga yang membutuhkan bensin untuk aktivitas sehari-hari seperti pergi ke ladang atau bepergian ke desa lain. Kegiatan antrean Panjang ini terjadi di Desa Long Alango, sebuah desa yang berada di wilayah perbatasan dan cukup jauh dari pusat kota, sehingga distribusi BBM sering mengalami keterbatasan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari sabtu 7 maret 2026. Antrean biasanya terjadi ketika pasokan bensin satu harga tersedia atau saat ada distribusi BBM masuk ke desa. Pada waktu-waktu tersebut, warga berbondong-bondong datang agar tidak kehabisan. Warga mengantre karena harga bensin di desa tersebut biasanya sangat tinggi, bahkan bisa mencapai sekitar Rp25.000 per liter. Hal ini disebabkan oleh sulitnya akses transportasi dan biaya pengangkutan BBM yang mahal untuk mencapai daerah perbatasan seperti Long Alango.
Masyarakat datang sejak pagi hari dengan membawa jeriken
atau kendaraan mereka. Mereka menunggu giliran secara tertib hingga mendapatkan
bensin sesuai jatah yang tersedia yaitu 20 liter per KK. Walaupun harus
menunggu lama atau mengantre panjang, masyarakat tetap sabar karena kesempatan
mendapatkan bensin dengan harga lebih murah sangat membantu kebutuhan mereka di
desa pedalaman. Antrean panjang untuk mendapatkan bensin satu harga menjadi
gambaran nyata perjuangan masyarakat Desa Long Alango dalam memenuhi kebutuhan
energi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemerataan distribusi BBM hingga ke
daerah perbatasan agar masyarakat dapat menikmati harga yang lebih adil dan
terjangkau.
Baca juga:
Stand Bahau Hulu di Festival IRAU 10 Malinau
Stand Bahau Hulu di Festival IRAU 10 Malinau