'

Peleput (Sumpit): Senjata Tradisional Masyarakat Dayak Kenyah Di Desa Long Alango

not image

    Masyarakat Dayak Kenyah di Desa Long Alango memiliki berbagai senjata tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu senjata yang paling dikenal adalah Peleput atau sumpit yaitu senjata tradisional yang digunakan untuk berburu dan melindungi diri.

    Peleput (sumpit) adalah senjata tradisional berupa seperti pipa panjang yang digunakan untuk melontarkan anak sumpit (damek) dengan cara ditiup menggunakan mulut. Senjata ini terkenal karena tingkat akurasinya yang tinggi. Biasanya Peleput (sumpit) ini digunakan oleh laki-laki Dayak Kenyah, khususnya para pemburu. Namun, dalam konteks budaya, generasi muda juga diajarkan mengenal peleput sebagai bagian dari warisan budaya.

    Peleput (sumpit) biasanya digunakan di hutan sekitar, terutama saat berburu hewan seperti burung, monyet, atau babi hutan. Peleput (sumpit) yang digunakan masyarakat saat berburu biasanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kadang kala peleput (sumpit) ini sering digunakan dalam kegiatan adat dan pertunjukan budaya. Peleput (sumpit) sangat penting bagi masyarakat karena menjadi alat utama berburu secara tradisional, melatih ketepatan, kesabaran, dan konsentrasi, sebagai simbol keahlian dan kedewasaan laki-laki Dayak dan menjadi identitas budaya Dayak Kenyah.

    Adapun cara pembuatan Peleput (sumpit) biasa dibuat dari kayu keras yang dilubangi secara memanjang. Anak sumpit biasanya dibuat dari bambu atau kayu kecil dan diberi racun alami dari getah tumbuhan hutan. Cara menggunakannya adalah dengan memasukkan anak sumpit ke dalam peleput lalu meniupnya dengan kuat ke arah sasaran. Peleput (sumpit) bukan hanya senjata, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan kecerdikan dan kearifan lokal masyarakat Dayak Kenyah di Desa Long Alango. Hingga kini, peleput masih dikenalkan dalam kegiatan adat dan wisata budaya sebagai simbol identitas tradisional.

Bagikan post ini: